PERUBAHAN SIFAT SOLITER KE GREGARIUS YANG MENYEBABKAN LEDAKAN BELALANG KEMBARA (Locusta migratoria)

A.  PENDAHULUAN

Belalang kembara merupakan serangga yang menjadi pusat perhatian sejak dahulu.  Sejarah menyebutkan begitu besar dan dahsyatnya serangan belalang kembara dalam kehidupan manusia terutama bila terjadi peningkatan populasi yang lebih dikenal dengan sebutan ledakan belalang kembara.

Di Indonesia tercatat beberapa Propinsi yang mengalami ledakan belalang kembara.  Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan tahun 2000 melaporkan bahwa puncak serangan belalang kembara di Indonesia terjadi pada tahun 1998/1999 meliputi propinsi Lampung, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.  Ke lima propinsi tersebut merupakan daerah-daerah yang mengalami serangan yang paling luas, tetapi propinsi Lampung merupakan wilayah pertama yang mengalami serangan terberat.  Selama 4 musim tanam, Oktober 1998 sampai dengan Oktober 1999/2000, luas serangan belalang kembara yang terjadi pada tanaman padi mencapai 35.356 hektar dan diantaranya puso seluas 6.248 hektar sedangkan pada tanaman jagung seluas 35.212 hektar dan 8.216 hektar puso.  Kehilangan hasil akibat serangan belalang kembara diperkirakan mencapai 14.299 ton padi dan 12.802 ton jagung per musim tanam.

Di propinsi Lampung serangan belalang kembara pertama kali terjadi pada bulan  Oktober 1990 di Kecamatan Pakuan ratu, Lampung Utara pada tanaman jagung seluas 60 hektar.  Serangan terus meningkat dan menyerang secara aditif hingga mencapai puncak serangan pada bulan Mei 1995 seluas 1.719 hektar meliputi tanaman padi dan jagung (Wijaya,  1999).

Sedangkan di Sumatera Selatan terutama di Kecamatan Belitang II dan Belitang III Kabupaten Ogan Komering Ulu pada tahun 1998 tanaman padi dan jagung yang terserang hama belalang kembara seluas 150 hektar dengan 39,25 hektar mengalami puso (Susilawati, 1998).

Walaupun saat ini ledakan hama belalang kembara sudah tidak terdengar lagi, tetapi dari data diatas dapat dijadikan acuan akan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya kembali ledakan hama belalang kembara.  Perlu perhatian mendalam akan faktor penyebab terjadinya perubahan sifat belalang yaitu dari sifat soliter (kehidupan menyendiri) ke sifat gregarius (kehidupan berkelompok) yang dapat mengakibatkan peningkatan kerusakan pada tanaman yang diserang terutama pada musim kemarau.  Menurut Wijaya (1999), hasil analisis antara luas serangan belalang kembara dengan musim menunjukan serangan belalang kembara pada musim kemarau (April-September) lebih tinggi dibandingan musim hujan (Oktober-Maret).  Artinya perubahan musim dapat memicu perubahan sifat belalang menjadi gregarius penyebab terjadinya ledakan belalang kembara.

B.  Belalang Kembara

a. Biologi

Belalang kembara termasuk dalam keluarga Acrididae dan marga Locusta dan mengalami tiga stadia pertumbuhan yaitu stadia telur, serangga muda (nimfa) dan serangga dewasa (imago).  Ketiga fase perkembangan belalang kembara itu disebut metamorphose sederhana.

Daur hidup belalang kembara rata-rata 76 hari.  Stadia telur rata-rata 17 hari dan stadia nimfa 38 hari dimana instar pertama selama 7 hari, instar kedua 6,5 hari, instar ketiga 6,5 hari, instar keemapt 7,5 hari dan instar terakhir selama 10,5 hari.  Masa serangga dewasa hingga siap kawin 11 hari dan masa sejak kawin hingga bertelur yang pertama 10 hari atau masa pra bertelur 21 hari.  Masa aktif bertelur sejak meletakkan telur pertama sampai mati rata-rata selama 63 hari.  Umur belalang betina dan jantan dewasa sampai mati rata-rata 60 hari sampai 92 hari.  Waktu antara peletakkan telur sampai peletakkan telur pertama oleh keturunan berikutnya berkisar antara 70 sampai 110 hari dengan lama hidup belalang dewasa mencapai 160 hari.                 

b. Fase

Perkembangan koloni belalang kembara dikenal mengalami 3 fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien dan fase gregarius.  Pada fase soliter belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman.  Fase gregarius, belalang kembara hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok besar, berpindah-pindah tempat dan menimbulkan kerusakan tanaman secara besar-besaran pula.  Perubahan fase dari soliter ke gregarius dan sebaliknya dari gregarius ke soliter dipengaruhi oleh kondisi iklim melalui fase yang disebut transien (Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan,  2000).  Ambang padat populasi pada fase gregarius adalah 2000 ekor per hektar (Wijaya,  1999).

Menurut Wijaya (1999), untuk membedakan morfologi fase soliter dan gregarius diukur dari rasio panjang tegmen (=elytron) (E)/panjang femur belalang (F).  Di Indonesia dan Asia Tenggara rasio E/F pada jantan fase soliter 1,73 dan gregarius 2,12 sedangkan pada betina 1,74 dan 2,18.  Ciri morfologi lain yang membedakan fase soliter dengan fase gregarius adalah bagian pronotum belalang.  Pronotum pada fase soliter berbentuk cembung sedangkan fase gregarius cekung atau datar.

Gambar

Gambar 1.     Perbedaan pronotum belalang kembara pada fase soliter dengan fase gregarius  (S=soliter,  G=gregarius,     =  pronotum) Sumber : Uvarov, 1966.

Warna belalang dewasa sangat bervariasi tergantung pada fase dan kematangannya.  Individu belalang dewasa belum matang pada fase soliter mempunyai warna paling menonjol hijau atau coklat.  Dengan perubahannya ke fase gregarius proporsi warna coklat meningkat sampai 100%.

C.  Perubahan Soliter ke Gregarius

                 Perubahan fase soliter ke fase gregarius biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (dibawah normal).  Pada saat tersebut biasanya terjadi peningkatan konsentrasi populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang.  Lokasi tersebut biasanya mempunyai lahan yang terbuka atau banyak rerumputan, tanahnya gembur berpasir, dekat sumber air (sungai, danau, rawa) sehingga kondisi tanahnya cukup lembab.  Setelah berlangsung 3-4 generasi apabila kondisi lingkungan memungkinkan akan berkembang menjadi fase gregarius, melalui fase transien.  Lokasi ini dikenal sebagai lokasi pembiakan awal (Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan,  2000), selanjutnya dinyatakan bahwa perubahan fase gragarius kembali ke fase soliter biasanya apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupan belalang tersebut, terutama karena pengaruh curah hujan, tekanan musuh alami dan atau tindakan manusia melalui usaha pengendalian.  Perubahan ini melalui fase transien pula.

D.  Ledakan Belalang Kembara

Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar.  Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin.  Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi.  Pertanaman yang dihinggapi biasanya akan dimakan sampai habis, sedangkan nimfa biasanya berpindah dengan berjalan secara berkelompok dan akan memakan tanaman yang dilewati.

Penduduk yang mempunyai tradisi tanam berpindah-pindah setiap tahun, menanami lahan setiap musim hujan dan membakar tunggul sebelum meninggalkannya pada musim kering.  Praktek seperti ini menyediakan makanan/tempat berlindung dan tempat meletakkan telur dan kondisi seperti ini mendukung perubahan fase belalang ke fase gregarius yang akan mengakibatkan terjadinya ledakan hama belalang kembara.  Disamping itu pula pembukaan lahan untuk usaha perkebunan menciptakan biotipe sesuai yang potensial untuk perkembangan belalang kembara, dimana  banyak tanah yang terbuka tempat peletakkan telur belalang kembara, suhu lingkungan meningkat dan menyediakan tempat yang potensial yaitu makanan serta tempat berlindung (shelter).

Pada musim kering yang panjang vegetasi pakan bagi belalang banyak yang mati sehingga belalang mulai kesulitan mencari pakan dan penyebaran menjadi sempit.  Belalang kemudian mencari rumput yang masih hidup yaitu didekat perairan sehingga terfokus di suatu tempat.  Di lokasi itu belalang tumbuh dan berkembang mempertahankan hidup, akibatnya telur belalang relatif terlokalisir.  Pada musim hujan, telur-telur belalang akan menetas dan biji rumput mulai tumbuh yang akan menyediakan pakan bagi belalang.

Belalang kembara cenderung untuk berkelompok.  Belalang bergerak kearah yang sama sambil menyerang vegetasi yang dilalui.  Gabungan kelompok belalang akan terlokalisir di suatu tempat yang sudah ada sekelompok belalang dan membentuk kelompok yang lebih besar lagi sehingga terjadi ledakan hama belalang (outbreak)

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan. 2000.  Program Penanggulangan Belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis) Pada Tanaman Padi dan Jagung di Indonesia.  Departemen Pertanian. Jakarta. 11 hal.

Kalshoven, L.G.E.  1981.  The Pests of Crops in Indonesia.  PT. Ichtiar Baru.  Jakarta.  701 hal.

Susilawati. 1998.  Belalang Lampung Hijrah ke OKU.  Sinar Tani.  Jakarta.  Hal 9.

Tjandrakirana, V.L., Harsono Lanya, Daniar T dan Osid H.  1994.  Belalang Kembara (Locusta migratoria) dan Usaha Pengendaliannya.  Dirjend Tan.Panhor.  27 hal.

Wijaya, Edi Suwardi.  1999.  Pengembangan Model Peramalan Belalang Kembara pada Tanaman Pangan di Propinsi Lampung (Makalah).  BPHPT Pangan dan Hortikultura. Jatisari.  16 hal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: