PERAN DOSEN SEBAGAI IMPLEMENTOR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)

428919_4033005112705_1223484530_n

LOKARYA PENYUSUNAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) PADA PROGRAM STUDI DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS PALEMBANG, TANGGAL 24 DESEMBER 2012

A.  Pendahuluan

Mutu pendidikan merupakan salah satu syarat penting untuk dapat menjawab tantangan perubahan dan perkembangan berbagai aspek kehidupan, yang dapat mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan berkehidupan yang damai, terbuka, demokrasi serta mampu bersaing di era global.  Pembenahan dan penyempurnaan kinerja pendidikan menjadi hal penting dalam mendukung mutu pendidikan, terutama pada aspek substantif yaitu kurikulum.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Untuk itu, maka dalam penyusunan kurikulum pelaksanaan pembelajaran hendaknya dimasukkan sebagai bahan pertimbangan utama.  Keberhasilan pembelajaran yang telah direncanakan dalam kurikulum sangat bergantung pada kualitas dan kompetensi pengajar, kualitas akademik peserta ajar, fasilitas belajar, lingkungan belajar dan lain-lain.

Akumulasi dari hasil pembelajaran matakuliah-matakuliah yang tercantum dalam kurikulum akan menghasilkan kompetensi.  Oleh karena itu pelaksana dan pendukung program pendidikan hendaknya mengikuti perencanaan yang telah disusun.  Kurikulum yang dirancang berdasarkan kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya bangsa.

B.  Implementasi KBK

Kurikulum memuat tiga pokok pikiran yaitu apa yang dirancang untuk mahasiswa, apa yang diberikan kepada mahasiswa dan pengalaman apa yang diperoleh mahasiswa. Penyusunan kurikulum hendaknya mengacu pada sasaran pokok yaitu meningkatkan kualitas luaran (outcomes) secara berkelanjutan.  Peningkatan kualitas suatu proses pendidikan dibangun oleh komponen-komponen otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi  Selain itu, dalam penyusunan kurikulum perlu dirancang pula proses pembelajaran yang akan menyertai implementasi kurikulum

Proses pembelajaran hendaknya mengacu pada materi ajar dalam matakuliah yang disusun dalam kurikulum, yang ditunjang oleh kegiatan pembelajaran pokok seperti kegiatan praktikum, tutorial, asistensi, kuliah kerja, kerja praktek, serta kegiatan lain yang menunjang pengembangan soft skill, komunikasi dan lain-lain.

Tantangan dalam pelaksanaan KBK adalah masalah implementasi.  Salah satu stakeholder yang menjadi kunci keberhasilan pengimplementasian KBK adalah dosen.  Karena itu kemampuan dosen dalam menjalankan profesinya dituntut lebih professional, sehingga mampu menghadapi perubahan kurikulum dan menjalankan kurikulum yang baru.  Pengembangan kemampuan dapat dilakukan dengan cara banyak membaca, menulis, menuntut ilmu yang lebih tinggi, menghadiri seminar, lokakarya dan lain sebagainya sehingga kemampuan strategis dan akademis dalam menjalankan kurikulum menjadi ebih optimal.

Disamping itu juga dosen harus lebih kreatif yaitu memiliki jiwa seni dalam menyampaikan materi ajar.  Dari jiwa itu akan muncul berbagai kretivitas dalam mengelola dan mengembangkan bahan ajar, metode atau model pembelajaran.

C.  Kendala

Perencanaan yang baik belum tentu akan menghasilkan produk yang baik, karena tergantung pada implementasi dan didukung oleh semua pihak.  Disamping itu juga motivasi yang kuat dari dosen sebagai implementor sangat diperlukan.  Hal ini karena ada beberapa hal yang dapat mengendurkan motivasi implementor dalam mengimplementasikan KBK diantaranya adanya ketidak sportifan stakeholder user dalam merekrut outcomes seperti terbentuknya jaringan antara institusi dengan user, sehingga outcomes yang diambil bukan berdasarkan hasil seleksi yang kualified, user pilih-pilih lulusan dari institusi tertentu.  Disamping itu juga daya tampung instansi user terbatas, serta kurang tertariknya mahasiswa terhadap matakuliah yang dipilih.  Hal-hal inilah diantaranya yang  membuat kurang terpacunya semangat idealis dalam mengajar.

Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah kesejahteraan dosen sebagai implementor KBK.  Dosen dituntut tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas rutin akademisnya, tetapi disisi lain dosen juga harus berjuang dalam pemenuhan kesejahteraan hidup.  Nasib para mahasiswa berada di tangan para dosen, sementara nasib dosen berada di tangan mereka sendiri.  Akibatnya tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian dosen mengajar tidak pada satu institusi dan dengan matakuliah yang diberikan berbeda-beda, sehingga berkurangnya  perhatian terhadap kurikulum yang memiliki basis kompetensi.  Jadi komitmen untuk menjalankan tugas mengajar dengan kreativitas yang tinggi kadangkala harus dikorbankan jika berhadapan dengan tuntutan kehidupan.

D.  Harapan

KBK merupakan salah satu ide yang dilontarkan oleh orang-orang bijak dan pintar dalam dunia pendidikan yang akan mendukung terciptanya pendidikan nasional yang di cita-citakan.  Kita tidak akan pernah tahu bagusnya suatu model termasuk KBK, tidak akan pernah maju selama kita selalu dihantui perasaan takut gagal.  Oleh karena itu dukungan yang sebesar-besarnya dari seluruh stakeholder sangat dibutuhkan dalam mendukung terlaksananya Kurikulum Berbasis Kompetisi (KBK) terutama dosen sebagai implementor.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. Dikti. Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan.  2004.  Praktek Baik dalam Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.  BukuI. Proses Pembelajaran.  Jakarta. 36 hal.

Direktorat Pendidikan Institut Teknologi Bandung.  2007.  Mengajar di ITB.  Hal 129-135.

Chan, Sam M, dan Tuti T.Sam.  2005.  Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah.  Penerbit PT. Raja Grafindo Persada.  Jakarta.  210 hal.

MANFAAT BARANG BEKAS

Gambar

Didasari oleh kegemaran makan sayur dan kekhawatiran pada sayuran yang di jual di pasaran telah terpapar bahan kimia sintetik, akhirnya diputuskan untuk menanam sayuran sendiri.  Keinginan menanam sayur sendiri ini, telah terencana sejak lama, tetapi masalahnya sekarang tidak adanya lahan yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut.  Coba-coba cari pengetahuan di dunia maya, akhirnya ketemu.  Bahwa untuk sekedar menanam sayuran seperti kangkung, pachoy, caisin atau jenis sawi-sawian, apalagi untuk konsumsi sendiri, tidak lah membutuhkan lahan yang luas.  Wadah atau barang-barang bekas pun dapat digunakan sebagai tempat (pot) bertanam.  Barang bekas tersebut dapat berupa bekas minuman kemasan, wadah makanan dan lainnya.

Saat ini telah memulai usaha tersebut dan bisa dikatakan 50% sudah berhasil.  Dalam satu pot cangkir minuman kemasan dapat ditanam 2 (dua) benih, jadi kalau 10 pot bisa menghasilkan 20 tanaman. Kalau di kira-kira harganya hampir Rp.10.000.-.  Hal ini artinya uang RP. 10.000.- hanya bisa membeli satu ikat sayuran (satu kali beli).  Padahal kalau menanam sendiri, uang Rp. 10.000.- dapat membeli benih caisin ukuran 100 gram yang jumlah benihnya hampir 1000 butir.  Memang untuk kegiatan awal butuh waktu untuk melaksanakannya, tetapi untuk seterusnya akan lebih mudah. 

Gambar

Menanam sayuran sendiri dengan memanfaatkan wadah (pot) bekas, selain dapat memenuhi kebutuhan gizi yang bersumber dari sayuran, juga tidak dikhawatirkan akan adanya sayuran yang dikonsumsi terpapar bahan kimia sintetik yang dapat mengganggu kesehatan. Yang penting adalah mau mengerjakannya….

Plutella xylostella

Morfologi dan Biologi Plutella xylostella

Serangga dewasa atau ngengat P. xylostella memiliki ciri khas di sayap depan berupa garis bergelombang berwarna kuning.  Pada saat ngengat istirahat, sayap terlipat dan tampak terlihat bintik segiempat seperti berlian kuning.  Oleh karena itu  disebut diamondback.  Ngengat P. xylostella aktif pada malam hari atau nocturnal (Mau & Kessing  2007; Chan et al. 2008).  Ratio jumlah jantan dengan betina P. xylostella adalah 1:1 (Mau & Kessing  2007).

P. xylostella memiliki empat tahap perkembangan yaitu telur, larva, pupa dan imago (Gambar 1).  Telur P. xylostella berwarna kuning atau hijau pucat ditutupi oleh rambut-rambut (Chan et al. 2008).  Panjang telur P. xylostella 0,44 mm dan lebarnya 0,26 mm.  Ngengat betina meletakkan telur antara 250-300 butir dengan rata-rata 150 butir (Capinera 2000).

Gambar

 

 Imago P. xylostella meletakkan telur di atas dan di bawah permukaan daun, baik secara tunggal atau berkelompok dekat jaringan pembuluh daun akan menetas menjadi larva (Chan et al. 2008).  Larva P. xylostella memiliki empat instar.  Bagian ujung tubuh larva berbentuk lancip, larva memiliki lima pasang proleg, sepasang proleg menjorok dari posterior berbentuk huruf V (Capinera 2000).  Fase perkembangan larva berkisar antara 6-30 hari (Mau & Kessing  2007).  Akhir perkembangan larva akan menjadi pupa.  Pupa P. xylostella berwarna hijau terang kemudian berubah menjadi coklat atau krem pucat sampai coklat tua.  Pupa ditutupi kokon yang melekat pada permukaan daun (Chan et al. 2008).  Panjang pupa P. xylostella berkisar antara 7-9 mm (Capinera  2000).  Stadia pupa  kisaran antara 5-15 hari (Capinera  2000) dan rata-rata 8 hari (Mau & Kessing  2007).

Siklus hidup P. xylostella dari telur hingga imago meletakkan telur berkisar antara 21-51 hari.  Lama periode hidup tersebut dipengaruhi oleh faktor makanan dan lingkungan berupa suhu dan kelembaban (Chan et al. 2008).   Ditambahkan oleh Golizadeh et al. (2009) bahwa kualitas dan kuantitas tanaman inang sangat berperan pada dinamika populasi P. xylostella.  Ketersediaan makanan itu akan berpengaruh pada kebugaran imago P. xylostella.

Gejala Serangan dan Tumbuhan  Inang Plutella xylostella

Larva P. xylostella memakan jaringan di permukaan bagian bawah daun yang gejala awalnya daun tampak berwarna putih (Gambar 2).  Hal ini karena menurut Chan et al. 2008, larva memakan daun dan meninggalkan epidermis daun.  Apabila epidermis rusak maka daun akan terlihat berlubang.  Kerusakan daun yang ditimbulkan bervariasi tergantung pada tahap pertumbuhan tanaman, ukuran dan kepadatan larva P. xylostella.  Hampir seluruh daun dimakan larva P. xylostella kecuali jaringan pembuluh atau tulang daun (Mau & Kessing  2007).  Menurut Kalshoven (1981) serangan P. xylostella yang tinggi akan mengakibatkan daun berlubang dan tinggal tulang-tulang daunnya saja.

Gambar

 

Sayuran Brassicaceae yang menjadi inang P. xylostella, antara lain kubis, kubis bunga, caisin, sawi (Winasa & Herlinda  2003).  Beberapa penelitian untuk menguji kesesuaian tumbuhan Brassicaceae terhadap perkembangan P. xylostella menunjukkan bahwa keperidian P. xylostella lebih tinggi jika dipelihara di tanaman caisin daripada dipelihara di spesies tanaman yang lain.  Selain itu,  preferensi oviposisi dan memakan P. xylostella terhadap caisin dan sawi lebih tinggi dibandingkan Brassicaceae liar.  Tanaman caisin sering digunakan sebagai tanaman untuk memerangkap  P. xylostella (Charleston & Kfir 2000).

Pustaka

Capinera JL.  2000.  Diamondback Moth, Plutella xylostella (Linnaeus)(Insecta: Lepidoptera:  Plutellidae). http://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/IN/IN27600.pdf. (06 Agustus 2010).

Chan NW, Moe KT, Weine NNO.  2008.  Study on the biology of Diamondback Moth, Plutella xylostella (L.), on cabbage. GMSARN International Conference on Sustainable Development: Issues and Prospects for the GMS 12-14 Nov 2008. p.1-3.

Charleston DS, Kfir R.  2000.  The possibility of using indian mustard, Brassica juncea, as a trap crop for diamondback moth, Plutella xylostella, in South Africa.  Crop Protec. 19:455-460.

Golizadeh A, Kamali K, Fathipour Y, Abbasipour H.  2009.  Life table of the Diamondback Moth, Plutella xylostella (L.) (Lepidoptera: Plutellidae) on five cultivated Brassicaceous host plants.  J. Agric. Sci. Technol. 11:115-124.

Kalshoven, LGE.  1981.  The Pests of Cops  In Indonesia.  Revised and Translated by P.A. Van der Laan.  PT. Ichtiar Baru.  Van Hoeve.  Jakarta.  710p.

Mau, RFL, Kessing JLM. 2007.  Plutella xylostella (Linnaeus).  http://www.extento.hawaii.edu/Kbase/crop/type/plutella.htm. (sitasi 07 Agustus 2010).

Winasa IW, Herlinda S. 2003. Population of Diamondback Moth, Plutella xylostella L. (Lepidoptera:Yponomeutidae), and Its Damage and Parasitoids on Brassicaceous Crops. Proceedings of an International Seminar on Organic Farming and Sustainable Agriculture in the Tropics and Subtropics, Palembang October 8-9, 2003.

 

PERUBAHAN SIFAT SOLITER KE GREGARIUS YANG MENYEBABKAN LEDAKAN BELALANG KEMBARA (Locusta migratoria)

A.  PENDAHULUAN

Belalang kembara merupakan serangga yang menjadi pusat perhatian sejak dahulu.  Sejarah menyebutkan begitu besar dan dahsyatnya serangan belalang kembara dalam kehidupan manusia terutama bila terjadi peningkatan populasi yang lebih dikenal dengan sebutan ledakan belalang kembara.

Di Indonesia tercatat beberapa Propinsi yang mengalami ledakan belalang kembara.  Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan tahun 2000 melaporkan bahwa puncak serangan belalang kembara di Indonesia terjadi pada tahun 1998/1999 meliputi propinsi Lampung, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.  Ke lima propinsi tersebut merupakan daerah-daerah yang mengalami serangan yang paling luas, tetapi propinsi Lampung merupakan wilayah pertama yang mengalami serangan terberat.  Selama 4 musim tanam, Oktober 1998 sampai dengan Oktober 1999/2000, luas serangan belalang kembara yang terjadi pada tanaman padi mencapai 35.356 hektar dan diantaranya puso seluas 6.248 hektar sedangkan pada tanaman jagung seluas 35.212 hektar dan 8.216 hektar puso.  Kehilangan hasil akibat serangan belalang kembara diperkirakan mencapai 14.299 ton padi dan 12.802 ton jagung per musim tanam.

Di propinsi Lampung serangan belalang kembara pertama kali terjadi pada bulan  Oktober 1990 di Kecamatan Pakuan ratu, Lampung Utara pada tanaman jagung seluas 60 hektar.  Serangan terus meningkat dan menyerang secara aditif hingga mencapai puncak serangan pada bulan Mei 1995 seluas 1.719 hektar meliputi tanaman padi dan jagung (Wijaya,  1999).

Sedangkan di Sumatera Selatan terutama di Kecamatan Belitang II dan Belitang III Kabupaten Ogan Komering Ulu pada tahun 1998 tanaman padi dan jagung yang terserang hama belalang kembara seluas 150 hektar dengan 39,25 hektar mengalami puso (Susilawati, 1998).

Walaupun saat ini ledakan hama belalang kembara sudah tidak terdengar lagi, tetapi dari data diatas dapat dijadikan acuan akan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya kembali ledakan hama belalang kembara.  Perlu perhatian mendalam akan faktor penyebab terjadinya perubahan sifat belalang yaitu dari sifat soliter (kehidupan menyendiri) ke sifat gregarius (kehidupan berkelompok) yang dapat mengakibatkan peningkatan kerusakan pada tanaman yang diserang terutama pada musim kemarau.  Menurut Wijaya (1999), hasil analisis antara luas serangan belalang kembara dengan musim menunjukan serangan belalang kembara pada musim kemarau (April-September) lebih tinggi dibandingan musim hujan (Oktober-Maret).  Artinya perubahan musim dapat memicu perubahan sifat belalang menjadi gregarius penyebab terjadinya ledakan belalang kembara.

B.  Belalang Kembara

a. Biologi

Belalang kembara termasuk dalam keluarga Acrididae dan marga Locusta dan mengalami tiga stadia pertumbuhan yaitu stadia telur, serangga muda (nimfa) dan serangga dewasa (imago).  Ketiga fase perkembangan belalang kembara itu disebut metamorphose sederhana.

Daur hidup belalang kembara rata-rata 76 hari.  Stadia telur rata-rata 17 hari dan stadia nimfa 38 hari dimana instar pertama selama 7 hari, instar kedua 6,5 hari, instar ketiga 6,5 hari, instar keemapt 7,5 hari dan instar terakhir selama 10,5 hari.  Masa serangga dewasa hingga siap kawin 11 hari dan masa sejak kawin hingga bertelur yang pertama 10 hari atau masa pra bertelur 21 hari.  Masa aktif bertelur sejak meletakkan telur pertama sampai mati rata-rata selama 63 hari.  Umur belalang betina dan jantan dewasa sampai mati rata-rata 60 hari sampai 92 hari.  Waktu antara peletakkan telur sampai peletakkan telur pertama oleh keturunan berikutnya berkisar antara 70 sampai 110 hari dengan lama hidup belalang dewasa mencapai 160 hari.                 

b. Fase

Perkembangan koloni belalang kembara dikenal mengalami 3 fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien dan fase gregarius.  Pada fase soliter belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman.  Fase gregarius, belalang kembara hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok besar, berpindah-pindah tempat dan menimbulkan kerusakan tanaman secara besar-besaran pula.  Perubahan fase dari soliter ke gregarius dan sebaliknya dari gregarius ke soliter dipengaruhi oleh kondisi iklim melalui fase yang disebut transien (Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan,  2000).  Ambang padat populasi pada fase gregarius adalah 2000 ekor per hektar (Wijaya,  1999).

Menurut Wijaya (1999), untuk membedakan morfologi fase soliter dan gregarius diukur dari rasio panjang tegmen (=elytron) (E)/panjang femur belalang (F).  Di Indonesia dan Asia Tenggara rasio E/F pada jantan fase soliter 1,73 dan gregarius 2,12 sedangkan pada betina 1,74 dan 2,18.  Ciri morfologi lain yang membedakan fase soliter dengan fase gregarius adalah bagian pronotum belalang.  Pronotum pada fase soliter berbentuk cembung sedangkan fase gregarius cekung atau datar.

Gambar

Gambar 1.     Perbedaan pronotum belalang kembara pada fase soliter dengan fase gregarius  (S=soliter,  G=gregarius,     =  pronotum) Sumber : Uvarov, 1966.

Warna belalang dewasa sangat bervariasi tergantung pada fase dan kematangannya.  Individu belalang dewasa belum matang pada fase soliter mempunyai warna paling menonjol hijau atau coklat.  Dengan perubahannya ke fase gregarius proporsi warna coklat meningkat sampai 100%.

C.  Perubahan Soliter ke Gregarius

                 Perubahan fase soliter ke fase gregarius biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (dibawah normal).  Pada saat tersebut biasanya terjadi peningkatan konsentrasi populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang.  Lokasi tersebut biasanya mempunyai lahan yang terbuka atau banyak rerumputan, tanahnya gembur berpasir, dekat sumber air (sungai, danau, rawa) sehingga kondisi tanahnya cukup lembab.  Setelah berlangsung 3-4 generasi apabila kondisi lingkungan memungkinkan akan berkembang menjadi fase gregarius, melalui fase transien.  Lokasi ini dikenal sebagai lokasi pembiakan awal (Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan,  2000), selanjutnya dinyatakan bahwa perubahan fase gragarius kembali ke fase soliter biasanya apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupan belalang tersebut, terutama karena pengaruh curah hujan, tekanan musuh alami dan atau tindakan manusia melalui usaha pengendalian.  Perubahan ini melalui fase transien pula.

D.  Ledakan Belalang Kembara

Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar.  Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin.  Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi.  Pertanaman yang dihinggapi biasanya akan dimakan sampai habis, sedangkan nimfa biasanya berpindah dengan berjalan secara berkelompok dan akan memakan tanaman yang dilewati.

Penduduk yang mempunyai tradisi tanam berpindah-pindah setiap tahun, menanami lahan setiap musim hujan dan membakar tunggul sebelum meninggalkannya pada musim kering.  Praktek seperti ini menyediakan makanan/tempat berlindung dan tempat meletakkan telur dan kondisi seperti ini mendukung perubahan fase belalang ke fase gregarius yang akan mengakibatkan terjadinya ledakan hama belalang kembara.  Disamping itu pula pembukaan lahan untuk usaha perkebunan menciptakan biotipe sesuai yang potensial untuk perkembangan belalang kembara, dimana  banyak tanah yang terbuka tempat peletakkan telur belalang kembara, suhu lingkungan meningkat dan menyediakan tempat yang potensial yaitu makanan serta tempat berlindung (shelter).

Pada musim kering yang panjang vegetasi pakan bagi belalang banyak yang mati sehingga belalang mulai kesulitan mencari pakan dan penyebaran menjadi sempit.  Belalang kemudian mencari rumput yang masih hidup yaitu didekat perairan sehingga terfokus di suatu tempat.  Di lokasi itu belalang tumbuh dan berkembang mempertahankan hidup, akibatnya telur belalang relatif terlokalisir.  Pada musim hujan, telur-telur belalang akan menetas dan biji rumput mulai tumbuh yang akan menyediakan pakan bagi belalang.

Belalang kembara cenderung untuk berkelompok.  Belalang bergerak kearah yang sama sambil menyerang vegetasi yang dilalui.  Gabungan kelompok belalang akan terlokalisir di suatu tempat yang sudah ada sekelompok belalang dan membentuk kelompok yang lebih besar lagi sehingga terjadi ledakan hama belalang (outbreak)

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan. 2000.  Program Penanggulangan Belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis) Pada Tanaman Padi dan Jagung di Indonesia.  Departemen Pertanian. Jakarta. 11 hal.

Kalshoven, L.G.E.  1981.  The Pests of Crops in Indonesia.  PT. Ichtiar Baru.  Jakarta.  701 hal.

Susilawati. 1998.  Belalang Lampung Hijrah ke OKU.  Sinar Tani.  Jakarta.  Hal 9.

Tjandrakirana, V.L., Harsono Lanya, Daniar T dan Osid H.  1994.  Belalang Kembara (Locusta migratoria) dan Usaha Pengendaliannya.  Dirjend Tan.Panhor.  27 hal.

Wijaya, Edi Suwardi.  1999.  Pengembangan Model Peramalan Belalang Kembara pada Tanaman Pangan di Propinsi Lampung (Makalah).  BPHPT Pangan dan Hortikultura. Jatisari.  16 hal.

%d blogger menyukai ini: