Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Undang-undang RI No 20 Tahun 2003’

PERAN DOSEN SEBAGAI IMPLEMENTOR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)

428919_4033005112705_1223484530_n

LOKARYA PENYUSUNAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) PADA PROGRAM STUDI DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS PALEMBANG, TANGGAL 24 DESEMBER 2012

A.  Pendahuluan

Mutu pendidikan merupakan salah satu syarat penting untuk dapat menjawab tantangan perubahan dan perkembangan berbagai aspek kehidupan, yang dapat mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan berkehidupan yang damai, terbuka, demokrasi serta mampu bersaing di era global.  Pembenahan dan penyempurnaan kinerja pendidikan menjadi hal penting dalam mendukung mutu pendidikan, terutama pada aspek substantif yaitu kurikulum.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Untuk itu, maka dalam penyusunan kurikulum pelaksanaan pembelajaran hendaknya dimasukkan sebagai bahan pertimbangan utama.  Keberhasilan pembelajaran yang telah direncanakan dalam kurikulum sangat bergantung pada kualitas dan kompetensi pengajar, kualitas akademik peserta ajar, fasilitas belajar, lingkungan belajar dan lain-lain.

Akumulasi dari hasil pembelajaran matakuliah-matakuliah yang tercantum dalam kurikulum akan menghasilkan kompetensi.  Oleh karena itu pelaksana dan pendukung program pendidikan hendaknya mengikuti perencanaan yang telah disusun.  Kurikulum yang dirancang berdasarkan kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya bangsa.

B.  Implementasi KBK

Kurikulum memuat tiga pokok pikiran yaitu apa yang dirancang untuk mahasiswa, apa yang diberikan kepada mahasiswa dan pengalaman apa yang diperoleh mahasiswa. Penyusunan kurikulum hendaknya mengacu pada sasaran pokok yaitu meningkatkan kualitas luaran (outcomes) secara berkelanjutan.  Peningkatan kualitas suatu proses pendidikan dibangun oleh komponen-komponen otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi  Selain itu, dalam penyusunan kurikulum perlu dirancang pula proses pembelajaran yang akan menyertai implementasi kurikulum

Proses pembelajaran hendaknya mengacu pada materi ajar dalam matakuliah yang disusun dalam kurikulum, yang ditunjang oleh kegiatan pembelajaran pokok seperti kegiatan praktikum, tutorial, asistensi, kuliah kerja, kerja praktek, serta kegiatan lain yang menunjang pengembangan soft skill, komunikasi dan lain-lain.

Tantangan dalam pelaksanaan KBK adalah masalah implementasi.  Salah satu stakeholder yang menjadi kunci keberhasilan pengimplementasian KBK adalah dosen.  Karena itu kemampuan dosen dalam menjalankan profesinya dituntut lebih professional, sehingga mampu menghadapi perubahan kurikulum dan menjalankan kurikulum yang baru.  Pengembangan kemampuan dapat dilakukan dengan cara banyak membaca, menulis, menuntut ilmu yang lebih tinggi, menghadiri seminar, lokakarya dan lain sebagainya sehingga kemampuan strategis dan akademis dalam menjalankan kurikulum menjadi ebih optimal.

Disamping itu juga dosen harus lebih kreatif yaitu memiliki jiwa seni dalam menyampaikan materi ajar.  Dari jiwa itu akan muncul berbagai kretivitas dalam mengelola dan mengembangkan bahan ajar, metode atau model pembelajaran.

C.  Kendala

Perencanaan yang baik belum tentu akan menghasilkan produk yang baik, karena tergantung pada implementasi dan didukung oleh semua pihak.  Disamping itu juga motivasi yang kuat dari dosen sebagai implementor sangat diperlukan.  Hal ini karena ada beberapa hal yang dapat mengendurkan motivasi implementor dalam mengimplementasikan KBK diantaranya adanya ketidak sportifan stakeholder user dalam merekrut outcomes seperti terbentuknya jaringan antara institusi dengan user, sehingga outcomes yang diambil bukan berdasarkan hasil seleksi yang kualified, user pilih-pilih lulusan dari institusi tertentu.  Disamping itu juga daya tampung instansi user terbatas, serta kurang tertariknya mahasiswa terhadap matakuliah yang dipilih.  Hal-hal inilah diantaranya yang  membuat kurang terpacunya semangat idealis dalam mengajar.

Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah kesejahteraan dosen sebagai implementor KBK.  Dosen dituntut tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas rutin akademisnya, tetapi disisi lain dosen juga harus berjuang dalam pemenuhan kesejahteraan hidup.  Nasib para mahasiswa berada di tangan para dosen, sementara nasib dosen berada di tangan mereka sendiri.  Akibatnya tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian dosen mengajar tidak pada satu institusi dan dengan matakuliah yang diberikan berbeda-beda, sehingga berkurangnya  perhatian terhadap kurikulum yang memiliki basis kompetensi.  Jadi komitmen untuk menjalankan tugas mengajar dengan kreativitas yang tinggi kadangkala harus dikorbankan jika berhadapan dengan tuntutan kehidupan.

D.  Harapan

KBK merupakan salah satu ide yang dilontarkan oleh orang-orang bijak dan pintar dalam dunia pendidikan yang akan mendukung terciptanya pendidikan nasional yang di cita-citakan.  Kita tidak akan pernah tahu bagusnya suatu model termasuk KBK, tidak akan pernah maju selama kita selalu dihantui perasaan takut gagal.  Oleh karena itu dukungan yang sebesar-besarnya dari seluruh stakeholder sangat dibutuhkan dalam mendukung terlaksananya Kurikulum Berbasis Kompetisi (KBK) terutama dosen sebagai implementor.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. Dikti. Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan.  2004.  Praktek Baik dalam Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.  BukuI. Proses Pembelajaran.  Jakarta. 36 hal.

Direktorat Pendidikan Institut Teknologi Bandung.  2007.  Mengajar di ITB.  Hal 129-135.

Chan, Sam M, dan Tuti T.Sam.  2005.  Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah.  Penerbit PT. Raja Grafindo Persada.  Jakarta.  210 hal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: